Book Review : Garis Waktu

img_20170207_175339_356
instagram.com/nuphieeeee

Penulis : Fiersa Besari
Editor : Juliagar R. N.
Penerbit : Mediakita
Cetakan : keempat, 2016
Jumlah halaman : 216 hlm
ISBN : 978-979-794-525-1

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apa pun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus bekata bahwa risiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa. (hal. 4)

Buku ini mencetitakan tentang perjalanan si penulis dari masa perkenalan hingga masa-masa ia melupakan. Sebenarnya aku pernah mereview buku ini di instagram, hanya saja aku rasa kurang jika tidak dibahas di blog ini. Dan akhirnya review Garis Waktu menjadi posting pertama disini.

Sejak awal aku melihat buku ini aku tertarik karena covernya, dan setelah membaca sinopsisnya aku langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk membaca buku Garis Waktu. Cara penulisannya rapi, dengan bahasa yang puitis, tak ayal bisa membuat aku mudah terbawa suasana saa membaca buku ini (Aah bung Fiersa, kenapa kamu puitis sekali?). Pantas saja lirik-lirik lagunya indah semua. Oh ya! bagi yang belum tahu, penulis buku Garis Waktu itu juga merupakan musisi. Salah satu lagunya berjudul Waktu Yang SalahΒ yang dinyanyika bersama Thantri Kotak.

Jika kasmaran adalah narkotik, maka kau adalah bandarnya. Dan aku bagaikan pecandu yang rela menggadaikan jiwa demi menatap matamu sekali lagi. (hal. 12)

Lanjut membahas buku Garis Waktu, Garis Waktu merupakan buku pertama Fiersa Besari yang langsung menduduki 10 besar buku bestseller di toko-toko buku Indonesia. Menceritakan tentang kisah pribadi si penulis dengan ‘Kamu’-nya si penulis, juga keluarga dan orang-orang disekitarnya yang disusun secara kronologis berdasarkan bulan dan tahun.

Bagian kisah favoritku adalah ‘Pelarian’ yang terjadi di bulan Maret tahun kedua. Ketika si penulis mengatakan bahwa ia mendambakan ‘Kamu’ yang juga mendambakannya. Benar-benar miris.

Nyata yang menyakitkan jauh lebih baik daripada fiksi yang menyenangkan. (hal. 57)

Seperti itu. Memang kisah dunia nyata takkan pernah bisa seindah kisah yang ada di negeri dongeng. Hidup ini tak semudah membaca kisah romansa anak sekolah yang menyenangkan. Hidup ini tentang bagaimana cara kita bangkit disaat kita jatuh tersungkur di dasar jurang tanpa ada orang disisi kita.

By the way, buku ini cocok untuk dijadikan hadiah untuk teman yang sering galau agar bisa cepat move on atau dibaca sendiri ditemani secangkit teh hangat di sore hari.

Selamat membaca dan have a booktiful day πŸ™‚

4 thoughts on “Book Review : Garis Waktu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s